dispepsia DIC Blog











{December 25, 2009}   dispepsia

Istilah dispepsia berasal dari bahasa Yunani yaitu “ pencernaan yang keras atau sulit”, yang berarti seseorang yang merasa nyeri atau tidak nyaman, terutama pada perut bagian atas. Meskipun gejala yang kompleks dan durasinya bisa berubah-ubah, sebagian besar pasien mengeluh gejala dispepsia akut ( indigestion ) yang sering tidak membatasi konsumsi makanan atau alkohol. Pengobatan seperti NSAID, antibiotik seperti eritromisin, digoksin, teofilin, dan bifosfonat serta merokok atau stres ( Kimble, Koda. 2008).

Dispepsia adalah nyeri yang dapat bersifat akut, intermiten atau kronis yang gejalanya berupa nyeri atau rasa tidak nyaman yang berpusat pada perut bagian atas, pasien dengan rasa terbakar di dada ( heartburn ) yang predominan atau sering ( selama lebih dari satu minggu ) atau regurgitasi asam, kembung, banyak flatus, bersendawa, cepat kenyang. Gejala dyspepsia ini dapat dikarenakan oleh bermacam – macam kondisi seperti penyakit ulkus peptikum, refluks gastro-esofageal dan kehamilan. Faktor lain yang juga dapat menjadi penyebab dyspepsia adalah penggunaan NSAID ( 7) Prevalensi dispepsia adalah 25-55% dari populasi penduduk di Amerika Serikat. 60% adalah dispepsia non ulkus, 20% dispepsia ulkus pepstik dan 20% gastroesophageal refluks disease ( GERD ) ( Kimble, Koda. 2008).

Dyspepsia dapat terjadi karena berbagai penyebab, antara lain:

  • Makanan dan Intoleran terhadap obat
  • Gangguan Gastrointestinal pada bagian Luminal
  • Infeksi Helicobacter Pylori
  • Kondisi Lain
  • Pancreatic Disease
  • Dyspepsia Fungsional atau Non Ulcer(Tierney, Lawrence M, dkk. 2005)

Dyspepsia dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu dispepsia organik dan dispepsia non organik atau dispepsia fungsional :

(1) Dispepsia organik

Dispepsia organik jarang ditemukan pada usia muda, tetapi banyak ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun. Istilah organik baru dapat dipakai bila penyebabnya sudah jelas (Hadi, Sujono. 2002).

Dispepsia organik dapat digolongkan menjadi :

-  Dispepsia Ulkus

-  Dispepsia non ulkus

-  Refluks gastroesofageal

-  Karsinoma

-  Pankreatitis

-  Dispepsia pada sindroma malabsorbsi

-  Dispepsia akibat obat – obatan

-  Penyakit saluran empedu

-  Gangguan metabolisme

-  Penyakit lain (Hadi, Sujono. 2002)

(2)  Dispepsia Fungsional

Dispepsia fungsional atau dispepsia non – organik, merupakan dispepsia yang tidak ada kelainan organik tetapi merupakan                       kelainan fungsi dari saluran makanan (Hadi, Sujono. 2002). Dan dikatakan dispepsia fungsional apabila penyebabnya tidak                      diketahui atau tidak didapati kelainan pada pemeriksaan gastroenterologi konvensional, atau tidak ditemukan adanya kerusakan          organik dan penyakit-penyakit sistemik. Heyse (1994) memperkirakan di UnitedKingdom, dispepsia yang ditemui dokter umum            sampai 25 %  sementara oleh gastroenterohepatologist sampai 70 %. Kejadian dispepsia fungsional 6 – 10 kali kejadian tukak                  peptik dan ini merupakan beban bagi gastroenterohepatologist. Penelitian yang dilakukan Mudjadid dan Manan mendapatkan 40         % kasus dispepsia disertai dengan gangguan kejiwaan dalam bentuk ansietas, depresi atau kombinasi keduanya (Kimble, Koda                 2008).

Yang termasuk dalam dyspepsia fungsional:

- sekresi asam lambung

- Helicobacter Pylori

- Dismotilitas Gastrointestinal

- Ambang rangsang persepsi

- disfungsi autonom

- Aktivitas Mioelektrik Lambung

- Hormonal

- Diet dan Faktor Lingkungan

- Psikologis (Djojodiningrat, Darmika. 2006)

Terapi dyspepsia dapat dibagi menjadi 2 yaitu
a) Terapi Farmakologi
– Antasida
Antasida bekerja dengan menetralisir sekresi asam HCl. Jadi antasid bermanfaat dan berguna untuk mengurangi asam lambung,           dengan demikian dapat diharapkan untuk menyembuhkan dyspepsia. Obat ini ada yang berbentuk tablet kunyah atau berupa                 cairan suspensi, yang dianjurkan dimakan/diminum diantara makan. Antasida yang berupa suspense lebih efektif karena                           kapasitas buffering lebih baik dari pada yang berbentuk tablet (Hadi, Sujono. 2002).

-  Pompa Proton Inhibitor (PPI)

Penghambat pompa proton seperti omeprazol, lansoprazol atau pantoprazol, bekerja dengan menghambat asam lambung  dengan      cara menghambat sistem enzim adenosin trifosfat hidrogen-kalium ( pompa proton ) dari sel parietal lambung.  Penghambat                    pompa proton merupakan pengobatan jangka pendek yang efektif untuk dispepsia, terutama tukak lambung dan duodenum. Selain      itu, juga digunakan dalam kombinasi dengan antibiotika untuk eradikasi H pylori. Tetapi obat-obatan tersebut harus digunakan              hati – hati pada ibu hamil dan menyusui. Adapun efek sampingnya antara lain adalah sakit kepala, diare, ruam,  gatal dan pusing.          Efek samping yang dilaporkan untuk omeprazol dan lansoprazol meliputi urtikaria, mual, muntah, konstipasi, kembung, nyeri                abdomen,lesu, nyeri otot dan sendi, edema perifer dan perubahan hematologik (Anonim, 2000)

-   Antagonis Reseptor Histamin H2
Golongan obat ini mempunyai satu persamaan yaitu memiliki imidazol yang dianggap penting sekali menghambat reseptor H2.              Golongan ini telah banyak dimanfaatkan untuk mengobati tukak peptic. Yang termasuk golongan obat ini ialah simetidin,                          ranitidine, roxatidin, famotidin, metiamid dan burimamid. Dua obat terakhir yang disebut sekarang sudah tidak dipakai lagi,                  karena banyak menimbulkan efek samping, dan tidak perlu dibahas. Mengenai obat golongan ini akan dibahas lebih mendalam                pada terapi tukak peptic (Hadi, Sujono. 2002).

-   Agen motilitas
Metoklopramid
Secara kimia obat ini ada hubungannya dengan prokainamid yang mempunyai efek anti-dopaminergik dan kolinomimetik. Jadi             obat ini berkhasiat sentral maupun perifer.

Khasiat metoklopramid ada 3 pokok, yaitu:
1. Meningkatkan pembedaan asetilkolin dari saraf terminal post-ganglionik kolinergik
2. Merangsang reseptor muskarinik pada asetilkolin.
3. Merupakan reseptor antagonis dopamine.
Jadi dengan demikian metoklopramid akan merangsang kontraksi dari saluran makanan dan mempercepat pengosongan lambung.      Efek samping: reaksi distonik, iritabilitas atau sedasi dan efek samping ekstrapiramidal, karena efek antagonisme dopamine sentral      dari metoklopramid. Pemberian dosis tinggi pada anak dapat menyebabkan hipertoni dan kenjang. Dosis yang dianjurkan 3 kali 10      mg sehari. Dapat juga diberikan berbentuk parenteral (Hadi, Sujono. 2002).

Domperidon
Domperidon merupakan derivate benzimidazol. Khasiatnya adalah sama dengan metoklopramid. Karena domperidon merupakan        antagonis dopamine perifer dan tidak menembus sawar darah otak maka tidak mempengaruhi reseptor dopamine  saraf pusat                sehingga mempunyai efek samping yang rendah dari pada metoklopramid.

-   Eradikasi H pylori
Tes H pylori berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya dispepsia ulkus atau untuk megetahui prevalensi terjadinya ulkus peptik.            McColl et al menunjukkan bahwa pasien dengan dispepsia yang mempunyai ulkus atau tukak lambung telah terinfeksi oleh H                    pylori. Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa prevalensi dari infeksi H pylori pada                      pasien dengan dispepsia fungsional adalah kurang dari 12%. Ketika prevalensi infeksi H pylori pada pasien dengan ukus pepsik                kurang dari 48%, terapi inisial yang lebih baik adalah dengan Pompa proton inhibitor ( PPI ). Pernyataan lain adalah bahwa                     ketika infeksi H pylori dapat menurun 20%, maka terapi empiris dapat dimulai dengan PPI serta untuk mengobati dispepsia yang          tidak diketahui penyebabnya ( uninvestigated dyspepsia ). Pada dispepsia fungsional didapatkan hasil tes H pylori negatif,                       sedangkan pada dispepsia ulkus, diperoleh hasil tes H pylori positif (Talley, M.D. 2005).

-   Herbal terapi
Di antara pengobatan herbal, salah satu yang terbaik setelah dievaluasi pada penelitian prospektif adalah Iberogast. Iberogast                adalah kombinasi dari obat – obatan herbal yang terdiri dari Iberis, peppermint, dan chamomile. Sebuah penelitian meta analisis         dan RCT telah mengevaluasi efikasi dari Iberogast pada terapi dispepsia fungsional yang cukup signifikan dalam mrnghasilkan                 efek terapeutik (Monkemuller, Klaus. 2006).

b)  Terapi Non-Farmakologi
Strategi terapi untuk dispepsia akut dan kronis mempunyai perbedaan. Dispepsia akut dapat disebabkan karena makanan,               obat-obatan seperti NSAIDs, ataupun stres dan rokok. Untuk terapi non farmakologi pada dispepsia akut dapat berupa                             menghindari makanan yang dapat merangsang peningkatan lambung, menghentikan obat yang menginduksi dispepsia,                              menghentikan merokok, meminimalisir stres. Sedangkan untuk terapi farmakologinya dapat digunakan antasida, golongan H2RA         atau PPI (Kimble, Koda, 2008).
Dapat juga dilakukan diet dengan makan sedikit berulang kali, makanan yang banyak mengandung susu dalam porsi kecil. Jadi      makanan yang dimakan harus lembek, mudah dicerna, tidak merangsang dan kemungkinan dapat menetralisir asam HCl.                          Pemberiannya dalam porsi kecil dan berulang kali. Dilarang makan pedas, masam, alkohol (Hadi, Sujono. 2002).



{December 24, 2009}   Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.